Bedah Karya Sastra dan Buka Bersama dalam Kegiatan Mahasiswa Ngaji Sastra (Mantra) Vol.4

Gambar
  Dengan tema "Menajamkan Perspektif Mahasiswa terhadap Realitas Patriarki dan Perlawanan Perempuan melalui Film." Acara buka bersama dan bedah karya sastra yang diselenggarakan oleh Program Studi Tadris Bahasa Indonesia pada 3 Maret 2026 berlangsung dengan penuh antusiasme dan inspirasi. Film Perempuan Berkalung Sorban karya Abidah El Khalieqy menjadi sorotan utama dalam diskusi, khususnya mengenai bagaimana kisah perjuangan dan keberanian tokoh utama untuk berdiri tegak pada keyakinan yang benar.  Dengan menghadirkan pemateri kompeten, Bapak Moh. Fikri Zulfikar, M.Pd., Bu Dr. Salma Sunaiyah, M.Pd., dan Bapak Dr. Iwan Marwan, M.Hum., acara ini sukses menggali bagaimana kisah perjuangan Zakiah diterjemahkan kedalam bahasa visual tanpa menghilangkan esensi ceritanya. Diskusi berlangsung interaktif, diperkaya dengan sesi pemutaran film serta pemaparan mendalam dari para pemateri. Pak Fikri pun berpesan, " Selain menonton film, alangkah baiknya kalian juga membaca novelnya....

Mengungkap Sosok Nyai Farida dalam Penelitian Sastra Lisan


Siapa yang tidak terpesona dengan kisah mistis yang menyentuh hati? Salah satu kisah yang menarik perhatian adalah sosok Nyai Farida, lelembut yang berasal dari Badal, Kediri. Kisah ini ditulis dalam bentuk makalah penelitian oleh kelompok mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia, antara lain: Imro'atus Sholikah, Nur Khofifatul Khoiroh, Moh. Khabib Abdulloh Maulana, Zakia Arnifa, Firdaus Tri Azizah, dan Fina Sholihah. Hasil penelitian ini akan memberikan wawasan mendalam tentang perjalanan hidup dan pengaruh Nyai Farida dalam masyarakat.

Para peneliti melakukan wawancara demi menggali informasi dan narasi yang menghidupkan sosok Nyai Farida. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa asal usul Nyai Farida atau juga dikenal dengan hantu Farida tidak pernah diketahui. Menurut Pak Sugito selaku narasumber mengungkapkan bahwa sebaiknya hantu Farida disebut dengan "lelembut" yang berarti sosok berhati lembut, sebab Nyai Farida dikenal sebagai sosok yang sangat peduli dengan masyarakat.



Berdasarkan pengakuan narasumber, terdapat dua versi kisah sejarah sosok Nyai Farida. Versi pertama yakni Nyai Farida berasal dari zaman Belanda dan diperkosa oleh orang-orang Belanda, kemudian dibunuh dan dihanyutkan ke sungai, lalu ditemukan oleh Syekh Abdurrahman yang kemudian dimakamkan di desa Badal, Kediri. Versi kedua, Nyai Farida diceritakan berasal dari kalangan orang kaya dan senang membantu orang yang kesulitan. Namun, orang tua Farida tidak setuju dengan perbuatan anaknya, sehingga akhirnya Farida diambil oleh raja di kawasan desa Badal. Menurut narasumber, tidak ada kriteria khusus saat Nyai Farida membantu orang, semua hal tersebut tergantung dari hati masing-masing. 

Dengan adanya cerita lisan tentang sosok Nyai Farida, masyarakat setempat menjadi lebih berhati-hati dalam bertutur, tidak sembarangan berucap maupun menyepelekan. Sebab, walaupun Nyai Farida berhati lembut, sosok lelembut ini juga dapat tersinggung. Perlu diketahui, masyarakat setempat enggan menerima setiap barang yang diberikan oleh hantu Farida. Sebab, pernah terdapat kejadian bahwa masyarakat yang menerima pemberian tersebut tiba-tiba jatuh sakit.

Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa warisan Nyai Farida tetap hidup dalam ingatan masyarakat desa Badal. Nilai-nilai kebaikan sekaligus mistis tentang sosok Nyai Farida sangat perlu dilestarikan sebagai tradisi lisan yang akan diceritakan secara turun temurun. Lalu, bagaimana pendapat kalian tentang sosok Nyai Farida ini? Jika ingin mengetahui isi makalah penelitian tentang Nyai Farida, kalian bisa lihat Di sini.

Semoga kisah Nyai Farida ini dapat menginspirasi kita untuk lebih peduli dan berbagi dengan sesama, seperti yang ia lakukan. Mari kita terus menggali sejarah dan mengambil pelajaran berharga berbagai tokoh yang ada, meskipun itu berasal dari sosok mistis hantu Farida.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bedah Karya Sastra dan Buka Bersama dalam Kegiatan Mahasiswa Ngaji Sastra (Mantra) Vol.2

Bedah Karya Sastra dan Buka Bersama dalam Kegiatan Mahasiswa Ngaji Sastra (Mantra) Vol.4

SOBAT Tadris Bahasa Indonesia: "Abhivana Patha Nirmala Cahaya"