Bedah Karya Sastra dan Buka Bersama dalam Kegiatan Mahasiswa Ngaji Sastra (Mantra) Vol.4

Gambar
  Dengan tema "Menajamkan Perspektif Mahasiswa terhadap Realitas Patriarki dan Perlawanan Perempuan melalui Film." Acara buka bersama dan bedah karya sastra yang diselenggarakan oleh Program Studi Tadris Bahasa Indonesia pada 3 Maret 2026 berlangsung dengan penuh antusiasme dan inspirasi. Film Perempuan Berkalung Sorban karya Abidah El Khalieqy menjadi sorotan utama dalam diskusi, khususnya mengenai bagaimana kisah perjuangan dan keberanian tokoh utama untuk berdiri tegak pada keyakinan yang benar.  Dengan menghadirkan pemateri kompeten, Bapak Moh. Fikri Zulfikar, M.Pd., Bu Dr. Salma Sunaiyah, M.Pd., dan Bapak Dr. Iwan Marwan, M.Hum., acara ini sukses menggali bagaimana kisah perjuangan Zakiah diterjemahkan kedalam bahasa visual tanpa menghilangkan esensi ceritanya. Diskusi berlangsung interaktif, diperkaya dengan sesi pemutaran film serta pemaparan mendalam dari para pemateri. Pak Fikri pun berpesan, " Selain menonton film, alangkah baiknya kalian juga membaca novelnya....

Antologi Puisi “Litani” Melodi Kata Mahasiswa

Puisi merupakan media yang menjembatani seseorang untuk mengekspresikan perasaan ataupun pemikiran. Di semester 3, mahasiswa angkatan 2021, khususnya kelas A, berkesempatan untuk menyelami dunia puisi dalam mata kuliah Kajian dan Apresiasi Puisi. Dari pembelajaran dan pengalaman yang kaya, mereka berhasil berkolaborasi untuk meramu sebuah antologi puisi yang berjudul "Litani". Dalam karya ini, setiap mahasiswa menuangkan pengalaman, perasaan, dan pandangan hidup mereka dalam bentuk puisi yang beragam.

"Litani" bukan sekadar kumpulan puisi, namun juga sebagai representasi nyata dari pengalaman, kreativitas, serta kritisnya pikiran mahasiswa. Dalam antologi ini, kita akan menemukan puisi-puisi yang mengangkat beragam tema, mulai dari romansa, politik, ke-Tuhan-nan, dan masih banyak lagi. Beberapa penulis bahkan menggali sejarah, seperti perjuangan pahlawan untuk meraih kemerdekaan.

Salah satu hal menarik dari antologi ini adalah kehadiran puisi tipografi. Di tengah kata-kata, terdapat visualisasi yang menarik, memberikan dimensi baru pada puisi. Ini tidak hanya memperkaya pengalaman membaca, tetapi juga mengajak pembaca untuk merasakan dan melihat puisi dari sudut pandang yang berbeda. Kombinasi antara teks, gambar, dan simbol-simbol tertentu menciptakan harmoni yang memikat, menunjukkan bahwa puisi dapat dituangkan dalam berbagai bentuk. Puisi-puisi ini bukan hanya mengajak pembaca merasakan emosi, tetapi juga menyuguhkan pengalaman estetika yang menarik. Adanya gaya penulisan yang bervariasi, menunjukkan karakter dan keunikan setiap mahasiswa dalam menyampaikan pesan.

Berikut adalah salah satu puisi yang terdapat dalam antologi Litani.

Sepeda butut

Oleh: Apriliya Sukmawati

Dipojok gudang gelap

Sepeda berkelir hijau sahabat setiaku

Terparkir indah di sudut hati

Kadang kuperhatikan, kupegang, kuraba

Membayangkan kala berjuang

Wajah penuh cacian dan hinaan

Masih kuingat waktu temanku ingin memilikimu kujawab dengan

lirih “maaf ini adalah emas permata tak mungkin kulepas meski kau ganti dengan rembulan”

Walaupun sekarang kau tak rupa ori

Tapi kau tak kan kubuat bahan jual beli


Untuk membaca dan mengunduh antologi puisi "Litani" dapat melalui tautan berikut: [Antologi Puisi Litani].

Antologi Litani ini berisikan suara-suara yang saling melengkapi, serta menghadirkan narasi yang kaya dan penuh warna. Kami berharap antologi puisi "Litani" ini dapat menginspirasi pembaca untuk lebih menghargai karya sastra puisi sebagai bentuk ekspresi. Semoga karya ini bisa menjadi jembatan bagi generasi muda untuk lebih mencintai sastra, serta memahami betapa pentingnya menuangkan pikiran dan perasaan ke dalam kata-kata. Selamat membaca!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bedah Karya Sastra dan Buka Bersama dalam Kegiatan Mahasiswa Ngaji Sastra (Mantra) Vol.2

Bedah Karya Sastra dan Buka Bersama dalam Kegiatan Mahasiswa Ngaji Sastra (Mantra) Vol.4

SOBAT Tadris Bahasa Indonesia: "Abhivana Patha Nirmala Cahaya"