Bedah Karya Sastra dan Buka Bersama dalam Kegiatan Mahasiswa Ngaji Sastra (Mantra) Vol.4

Gambar
  Dengan tema "Menajamkan Perspektif Mahasiswa terhadap Realitas Patriarki dan Perlawanan Perempuan melalui Film." Acara buka bersama dan bedah karya sastra yang diselenggarakan oleh Program Studi Tadris Bahasa Indonesia pada 3 Maret 2026 berlangsung dengan penuh antusiasme dan inspirasi. Film Perempuan Berkalung Sorban karya Abidah El Khalieqy menjadi sorotan utama dalam diskusi, khususnya mengenai bagaimana kisah perjuangan dan keberanian tokoh utama untuk berdiri tegak pada keyakinan yang benar.  Dengan menghadirkan pemateri kompeten, Bapak Moh. Fikri Zulfikar, M.Pd., Bu Dr. Salma Sunaiyah, M.Pd., dan Bapak Dr. Iwan Marwan, M.Hum., acara ini sukses menggali bagaimana kisah perjuangan Zakiah diterjemahkan kedalam bahasa visual tanpa menghilangkan esensi ceritanya. Diskusi berlangsung interaktif, diperkaya dengan sesi pemutaran film serta pemaparan mendalam dari para pemateri. Pak Fikri pun berpesan, " Selain menonton film, alangkah baiknya kalian juga membaca novelnya....

Menelusuri Makna Kemerdekaan dalam Antologi "Serba-Serbi Kemerdekaan"

Bulan Agustus, menjadi salah satu bulan bersejarah bagi bangsa Indonesia. Saat itu, semangat kemerdekaan selalu terasa begitu kental di seluruh sudut negeri. Bendera merah putih berkibar dimana-mana, dan lagu perjuangan menggema di setiap acara. Namun, dibalik meriahnya perayaan seringkali kita lupa, bahwa setiap menit yang kita habiskan di tanah air tercinta ini, terdapat jejak sejarah yang panjang, penuh perjuangan, dan pengorbanan pahlawan kita. Mereka yang dengan gagah berani mengorbankan segalanya demi satu kata, yakni "Kemerdekaan". 

Namun begitu, merdeka bukanlah akhir perjuangan. Merdeka adalah titik awal perjalanan panjang untuk mewujudkan cita-cita bangsa menuju negeri yang adil, makmur, dan bermartabat.

Maka, disinilah peran karya sastra menjadi penting, khususnya dalam antologi terbaru berjudul “Serba-Serbi Kemerdekaan”, hadir sebagai bukti penghormatan untuk mengenang perjuangan pahlawan merebut kemerdekaan. Kumpulan karya ini merupakan salah satu program kerja departemen minat bakat HMPS Tadris Bahasa Indonesia. Antologi yang ditulis oleh mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia dari berbagai angkatan, menggabungkan berbagai sudut pandang tentang kemerdekaan. 

Keunikan dari antologi ini terletak pada keragaman gaya penulisan dan sudut pandang yang dihadirkan. Ketika mendengar kata “kemerdekaan”, pasti yang terbayang di benak banyak orang adalah peristiwa heroik dan perjuangan para pahlawan di masa lalu. Namun, dalam antologi ini kita diajak untuk melihat kemerdekaan dari sudut pandang yang berbeda. Setiap penulis membawa suara, pendapat, bahkan pengalaman mereka masing-masing sehingga menghasilkan mozaik yang kaya dan berwarna tentang kemerdekaan. 

Didalamnya terdapat cerpen yang menggugah, puisi yang mendalam, esai yang kritis, hingga narasi yang mengungkap fakta dibalik kemerdekaan. Setiap penulis dalam antologi ini menyajikan interpretasi yang unik dan berbeda tentang apa artinya kemerdekaan, baik dari sisi sejarah, sosial, budaya, maupun pribadi. 

“…

Darah mengalir bagai tinta sejarah

Proklamasi bergema menggetarkan jagat

Merdeka dengan gagah perkasa bagai kesatria”

Dalam puisi yang menggetarkan hati, kita akan diajak untuk merenungi kembali bagaimana darah dan air mata menjadi pondasi dari kebebasan yang kita rasakan saat ini. 

“… kamu harus ikhlas atas kepergian si Narto, dia orang yang berjasa bagi negara.”

Cerita pendek dalam antologi ini menampilkan kisah para pejuang yang rela meninggalkan keluarga tercinta demi bangsa. 

“Ternyata, naskah asli proklamasi yang ditulis tangan oleh Soekarno sempat dibuang ke tempat sampah di rumah Laksamana Maeda setelah diketik ulang oleh Sayuti Melik.”

Serta narasi yang mengungkapkan fakta dibalik kemerdekaan membuat kita bertanya-tanya: fakta mengejutkan apalagi setelah ini?

*Untuk membaca lebih lanjut tentang antologi ini dapat diakses melalui pranala berikut: Serba Serbi Kemerdekaan.

Membaca antologi ini, kita tidak hanya sekadar mengenang, tetapi juga merefleksikan dan bertindak. Kemerdekaan bukan hanya sekadar kebebasan dari penjajah, tetapi juga kebebasan dalam berpikir, berekspresi, dan berinovasi. Merayakan kemerdekaan tidak terbatas pada melakukan upacara bendera ataupun melakukan perlombaan. Dengan membaca antologi “Serba-Serbi Kemerdekaan” dapat menjadi salah satu cara untuk merayakan kemerdekaan dengan cara yang lebih bermakna, melampaui sekadar perayaan seremonial. 

Tepat bulan ini, Indonesia merayakan kemerdekaan ke 79 tahun. Di usia kemerdekaan yang terus bertambah, seluruh generasi muda diharapkan dapat menghargai dan meneruskan semangat juang para pahlawan, serta mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa dengan menjadi generasi yang cerdas, kreatif, berintegritas, dan cinta tanah air. Mari kita jadikan kemerdekaan ini sebagai pondasi yang kuat untuk masa depan yang lebih baik. Dirgahayu Indonesiaku!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bedah Karya Sastra dan Buka Bersama dalam Kegiatan Mahasiswa Ngaji Sastra (Mantra) Vol.2

Bedah Karya Sastra dan Buka Bersama dalam Kegiatan Mahasiswa Ngaji Sastra (Mantra) Vol.4

SOBAT Tadris Bahasa Indonesia: "Abhivana Patha Nirmala Cahaya"