Bedah Karya Sastra dan Buka Bersama dalam Kegiatan Mahasiswa Ngaji Sastra (Mantra) Vol.4
Dalam perkembangan arus globalisasi yang sangat pesat ini, warisan budaya sering kali terabaikan dan terlupakan. Padahal, setiap sudut Nusantara menyimpan berbagai warisan budaya yang penuh dengan nilai moral dan patut kita lestarikan sebagai generasi muda. Salah satu warisan budaya tersebut adalah cerita rakyat. Cerita rakyat ini merupakan bentuk sastra lisan, yakni diceritakan dari mulut ke mulut dan dari generasi ke generasi. Sayangnya, budaya sastra lisan seiringnya zaman mulai terkikis dan tersisihkan. Masyarakat sekarang menyebut cerita rakyat tersebut hanyalah sekadar mitos, dan perlahan tidak ada lagi yang peduli tentang warisan budaya ini.
Berawal dari keprihatinan tersebut, mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia angkatan 2022 berinisiatif untuk menghidupkan kembali budaya sastra lisan dengan mengalihwanakannya menjadi sebuah cerita pendek. Seluruh hasil karya mahasiswa ini kemudian dikumpulkan oleh divisi minat bakat HMPS Tadris Bahasa Indonesia IAIN Kediri dan disusun menjadi antologi cerpen yang bertajuk “KURIRA: Kumpulan Cerita Rakyat”.
Antologi cerpen ini mengangkat kembali asal-usul daerah yang mungkin telah lama terlupakan. Kumpulan cerita ini bukan sekadar kumpulan cerpen saja, lebih dari itu sebagai jembatan antara masa lalu dan masa kini, menghadirkan kembali kisah asal mula daerah yang dahulu hanya diceritakan dari mulut ke mulut sehingga perlahan pudar. Namun, berkat semangat dan kreativitas yang tinggi, para mahasiswa ini dapat menulis ulang cerita lisan tersebut dalam bentuk cerpen, memberi sentuhan modern namun tetap menjaga keaslian dan pesan moral yang terkandung di dalamnya.
Dalam buku ini terdapat 163 halaman dengan 15 bab dan 17 sub bab. Salah satu cerita yang menarik adalah “Asal-usul Nama Desa Kandangan” yang ditulis oleh Risma Salsabila. Risma dengan piawai meramu cerita tentang perjuangan Raden Sengkopuro untuk menetap disebuah wilayah yang dikuasai makhluk astral.
Selain itu, ada pula kisah berjudul “Padangi Ati” yang bercerita tentang asal mula desa Patihan, Tuban yang dikisahkan oleh Amanda Ratu Sholeha. Dalam cerpennya, Amanda berhasil menggambarkan keindahan alam dengan detail yang memukau sekaligus mengangkat nilai kebudayaan dan spiritual.
*Bagi yang ingin membaca lebih lanjut, fail antologi cerpen dapat diunduh melalui tautan "KURIRA".
Setiap cerita dalam antologi ini tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga dapat mengedukasi pembaca tentang asal-usul daerah di Indonesia. Melalui karya ini, kami berharap dapat menginspirasi generasi muda untuk lebih mencintai warisan budaya sehingga dapat menulis karya serupa terkait asal muasal daerah mereka masing-masing.
Projek ini juga mendapat dukungan penuh dari para dosen sastra yang melihat potensi besar dalam pelestarian sastra lisan melalui media yang lebih modern. Dengan upaya ini, cerita-cerita rakyat yang sarat akan makna tidak akan hilang ditelan zaman, melainkan akan terus hidup dan berkembang seiring dengan perkembangan teknologi.
Antologi cerpen "KURIRA" adalah bukti bahwa generasi muda memiliki kepedulian yang tinggi untuk melestarikan warisan budaya. Dengan bekal semangat dan kerja sama, mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia berhasil menghidupkan kembali legenda yang hampir dilupakan, dan dapat memberikan wawasan budaya bagi pembaca masa kini.
Komentar
Posting Komentar