Bedah Karya Sastra dan Buka Bersama dalam Kegiatan Mahasiswa Ngaji Sastra (Mantra) Vol.4
Bedah karya sastra dan buka bersama mahasiswa prodi Tadris Bahasa Indonesia Institut Agama Islam Negeri Kediri sukses dilaksanakan pada Rabu, 27 Maret 2024 di aula TIPD lantai 2.
Acara ini merupakan agenda tahunan dari Mantra (Mahasiswa Ngaji Sastra) yang sering dilaksanakan pada bulan Ramadhan. Bedah karya sastra kali ini merupakan alih wahana novel Buya Hamka ke dalam film, dengan tema “Menumbuhkan Jiwa Kritis Mahasiswa Melalui Ekranisasi Sastra Indonesia”.
Tidak hanya mahasiswa, dosen tadris bahasa Indonesia pun turut hadir meramaikan suasana. Diantaranya Dr. Iwan Marwan, M.Hum., Nurul Dwi Lestari, M.Pd., Erawati Dwi Lestari, M.Hum., Moh. Fikri Zulfikar, M.Pd., Anwariyah, M.Pd., serta Dr. Salma Sunaiyah, S.Ag, M.Pd.
Acara bedah karya sastra diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya serta Mars IAIN Kediri yang diikuti tamu undangan. Kemudian sambutan dari Ketua Prodi Tadris Bahasa Indonesia, Dr. Iwan Marwan, M.Hum. serta sambutan Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Indonesia, Nur Khofifatul Khoiroh.
Nonton bersama film Buya Hamka merupakan acara selanjutnya yang paling ditunggu-tunggu. Selepas itu dilanjutkan acara inti, yaitu bedah karya sastra dengan Ibu Erawati Dwi Lestari, M.Hum sebagai pembedah dan Bapak Moh. Fikri Zulfikar, M.Pd sebagai pembanding.
Melalui dua sosok hebat ini, mahasiswa tidak hanya menikmati film tetapi juga dapat belajar dari film sekaligus mengasah daya pikir kritis. Sebagai pembedah, Ibu Era berpesan bahwa, “Nonton film itu harus punya rasa curiga,” ketika beliau mendapati banyak hal menarik, mulai dari pamflet, aktor, serta isu yang ada di dalamnya.
Namun sayangnya terdapat beberapa lompatan (time jump) yang membuat penonton bertanya-tanya dan kurang memahami alur film. Disamping itu, beliau berpendapat bahwa isu sekaligus amanat yang diusung dalam film ini sangat menarik, seperti semangat nasionalisme, religiusitas dan spiritualitas, perkembangan pendidikan, serta pandangan terhadap perempuan.
Sebagai pembanding, Pak Fikri mengatakan bahwa antara novel dengan film memang selalu memiliki perbedaan. Beliau juga mengungkap fakta menarik terkait kehidupan Buya Hamka, “Meskipun tubuhnya terpenjara, tapi pikirannya kemana-mana, bebas,” ujar Pak Fikri usai mengatakan bahwa Buya Hamka mampu menulis 30 juz tafsir Al-Azhar ketika dipenjara selama dua tahun.
Terdapat mahasiswa yang sangat tertarik dengan materi yang telah dijelaskan, menanyakan tentang tuduhan plagiasi yang ditujukan pada Buya Hamka. Pak Fikri berpendapat bahwa tuduhan plagiasi tersebut tidak sepenuhnya benar, sebab terdapat perbedaan yang mencolok yakni budaya. Ibu Era juga menambahkan, di zaman sekarang tidak masalah jika suatu karya memiliki dasar yang sama tetapi harus memiliki keunikan tersendiri. Sedangkan di zaman dahulu, satu point yang memiliki kesamaan dengan karya lain maka sudah dipermasalahkan. Hal ini dapat terjadi sebab perbedaan nuansa politik.
Usai bedah karya sastra, acara dilanjutkan dengan buka puasa bersama. Seluruh mahasiswa berkumpul melingkar sembari menyantap menu yang telah disediakan. Begitu pula dengan para dosen. Acara ditutup dengan penyerahan sertifikat kepada pembedah dan pembanding karya sastra, diserahkan oleh ketua HMPS TBIN, Nur Khofifatul Khoiroh. Kemudian doa dan foto bersama.
Setelah terlaksananya acara bedah karya sastra sekaligus buka bersama tersebut diharapkan dapat menumbuhkan jiwa dan pemikiran kritis mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia, serta terjalinnya hubungan yang semakin erat antar seluruh angkatan Prodi Tadris Bahasa Indonesia.
Maa Syaa Allah tabarakallah:)
BalasHapusMasyaallah tabarakallah, menyala hmps kuuu🔥🔥🔥
BalasHapus